
Ini gambaran perjuangan rakyat jelata yang tak mau menyerah menjadi pengemis. Bukan hanya papan namanya saja yang karya tangan sendiri, termasuk juga display toko, cara memajang barang, branding yang menggunakan kata 'mart'.


lebih superior karena desainnya 'elegan' dibanding desainer rakyat jelata yang desainnya 'kampungan'. Sebelum dibahas lebih lanjut, mari kita lihat beberapa contoh desainnya di sini..........

3. Kepekaan Mata: Koleksi semua warna coklat dari alam disekitar Anda. Daun kering, kulit kayu, tanah, ranting, biji. Kita akan melihat bahwa warna coklat yang satu berbeda dengan lainnya. Lakukan dengan warna lain. Dstnya.
Tak tahan melihat bidang kosong dan takut akan bidang kosong dianggap menjadi satu-satunya motif mengapa orang suka mencorat-coret dinding kosong. Dari sudut psikologi mungkin ada orang yang seperti itu dan jelas kebiasaan itu dianggap merusak keindahan kota.
Hampir di semua kota besar Indonesia kita menjumpai papan iklan yang semrawut penataannya. Papan iklan dipajang begitu saja terkadang tak memikirkan ergonomi, keamanan apalagi estetika, pertumbuhannya amat liar, inilah yang gawat. Di sisi lain situasi model begini terkadang justru menampilkan ciri khas suatu lokasi dan merupakan cermin keadaan psikologis dan kreativitas masyarakatnya, inilah yang unik. Gambar berikut mengilustrasikannya.
Ini jalan yang cukup modern. Lihat perbandingan hijau , bangungan dan iklan. Begitu banyaknya iklan sehingga menenggelamkan pemandangan kota. Iklan-iklan itu sendiri akhirnya tak bisa dinikmati atau dicerna. Rambu lalu-lintas yang seharusnya menjadi penuntun pengendara, hanya menjadi satu bisikan kecil ditegah hiruk-pikuk visual.
Jalan di kota anda merupakan perpaduan gambar dan kata yang kaya: rambu lalin, papan reklame, marka jalan, papan nama toko dan gerobak jualan. Bukan itu saja, periklanan modern berpadu dengan periklanan tradisional, teknik digital berpadu dengan manual, tipografi global berpadu dengan tipografi lokal.

Setiap hari ide lalu-lalang di benak kita. Kita menyadarinya. Ada yang setengah matang, ada yang matang, ada yang prematur dan ada juga yang siap lahir bagai bayi. Setiap karya, sebelum

